Dulu, rasa frustasi saya sempat memuncak, sampai menjadi apatis terhadap ajaran Sang Buddha tentang Hukum Karma. Mengapa, ada orang yang begitu jahat, jahatnya luar biasa jahat, sampai-sampai tidak lagi terlukiskan, namun seakan tidak kunjung celaka akibat perbuatan-perbuatan buruknya sendiri?
Memang
disayangkan dan harus saya akui, telah belasan tahun menjadi umat Buddhist,
akan tetapi baik Bhikkhu maupun penceramah di Vihara sekalipun, hampir tidak
pernah membabarkan khotbah asli Sang Buddha.
Menyadari bahwa saya telah “berjalan di tempat”, telah ternyata, dibelakang hari, barulah secara mandiri belajar Sutta Pitaka yang menjadi sumber otentik Agama Buddha, berisi khotbah-khotbah asli Sang Buddha. Dimana, barulah pada saat itu juga, kita baru akan mengetahui Agama Buddha yang sebenarnya dan seperti apakah ajaran seorang Buddha.
Salah
satunya ialah sabda Sang Buddha berikut, perihal cuplikan kecil cara kerja
Hukum Karma, yang ternyata bisa begitu kontekstual:
100 (9) Segumpal Garam
“Para bhikkhu, jika seseorang mengatakan sebagai
berikut: ‘Seseorang mengalami kamma dengan cara yang persis sama dengan cara ia
melakukannya,’ dalam kasus demikian maka tidak ada menjalani kehidupan
spiritual dan tidak ada kesempatan yang terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri
penderitaan.
“Tetapi jika seseorang mengatakan sebagai berikut:
‘Ketika seseorang melakukan kamma yang harus dialami dengan cara tertentu, maka
ia akan mengalami akibatnya persis dalam cara itu,’ dalam kasus itu maka
menjalani kehidupan spiritual adalah mungkin dan suatu kesempatan terlihat
untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan.
“Di sini, para bhikkhu, seseorang telah melakukan
kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju neraka,
sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma yang sepele yang persis
sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa]
yang terlihat, apalagi banyak [sisa].
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak
terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan; ia
terbatas dan berkarakter rendah, dan ia berdiam dalam penderitaan. Ketika orang
demikian melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju
neraka.
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa
sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang
terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ia
tidak terbatas dan berkarakter mulia, dan ia berdiam tanpa batas. Ketika orang
demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu
dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi
banyak [sisa]. [250]
[Kitab Komentar : Aparitto mahttā. Ia tidak terbatas karena moralitasnya tidak
terbatas; bahkan walaupun tubuhnya kecil, namun ia memiliki ‘karakter besar’
karena besarnya moralitasnya (guṇamahantatāya
mahattā).]
(1) “Misalkan seseorang menjatuhkan segumpal
garam ke dalam semangkuk kecil air. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu?
Apakah gumpalan garam itu membuat sedikit air dalam mangkuk itu menjadi asin
dan tidak dapat diminum?”
“Benar, Bhante. Karena alasan apakah? Karena air
di dalam mangkuk itu terbatas, dengan demikian gumpalan garam itu akan
membuatnya asin dan tidak dapat diminum.”
“Tetapi misalkan seseorang menjatuhkan segumpal
garam ke dalam sungai Gangga. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah
gumpalan garam itu membuat sungai Gangga itu menjadi asin dan tidak dapat
diminum?”
“Tidak, Bhante. Karena alasan apakah? Karena
sungai Gangga berisikan banyak air dengan demikian gumpalan garam itu tidak
akan membuatnya asin atau tidak dapat diminum.”
“Demikian pula, para bhikkhu, seseorang di sini
telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju
neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma buruk yang sepele
yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa
sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak terkembang
dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika orang
demikian melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju
neraka.
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa
sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang
terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika
orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu
dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi
banyak [sisa].
(2) “Di sini, para bhikkhu, seseorang dipenjara
karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa, [251] atau seratus kahāpaṇa,
sedangkan seorang lainnya tidak dipenjara karena [mencuri] sejumlah uang yang
sama.
[Kitab Komentar : Kahāpaṇa merupakan satuan mata uang utama yang digunakan di India Utara pada masa
Sang Buddha.]
“Orang jenis apakah yang dipenjara karena
[mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa,
atau seratus kahāpaṇa? Di sini, seseorang yang
miskin, dengan sedikit harta dan kekayaan. Orang seperti itu akan dipenjara
karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa,
atau seratus kahāpaṇa.
“Orang jenis apakah yang tidak dipenjara karena
[mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa,
atau seratus kahāpaṇa? Di sini, seseorang yang kaya,
dengan banyak harta dan kekayaan. Orang seperti itu tidak akan dipenjara karena
[mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa,
atau seratus kahāpaṇa.
“Demikian pula, para bhikkhu, seseorang di sini
telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju
neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma yang sepele yang
persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit
[sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak
terkembang dalam jasmani … dan kebijaksanaan. Ketika orang demikian melakukan
kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju neraka.
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa
sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang
terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika
orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu
dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi
banyak [sisa].
(3) “Para bhikkhu, ambil kasus seorang pedagang
domba atau tukang daging, [252] yang dapat mengeksekusi, memenjarakan,
mendenda, atau setidaknya menghukum seseorang yang mencuri seekor dombanya
tetapi tidak dapat melakukannya kepada orang lain yang mencuri dombanya.
“Orang jenis apakah yang dapat dieksekusi,
dipenjara, didenda, atau setidaknya dihukum oleh si pedagang domba atau tukang
daging karena mencuri seekor domba? Seorang yang miskin, dengan sedikit
harta dan kekayaan. Si pedagang domba atau tukang daging dapat mengeksekusi,
memenjarakan, mendenda, atau setidaknya menghukum seorang demikian karena
mencuri dombanya.
“Orang jenis apakah yang tidak dapat dieksekusi,
dipenjara, didenda, atau setidaknya dihukum oleh si pedagang domba atau tukang
daging karena mencuri seekor domba? Seorang yang kaya, dengan banyak uang
dan kekayaan, seorang raja atau menteri kerajaan. Si pedagang domba atau tukang
daging tidak dapat mengeksekusi, memenjarakan, mendenda, atau setidaknya
menghukum seorang demikian karena mencuri dombanya; ia hanya dapat memohon
kepadanya: ‘Tuan, kembalikanlah dombaku atau bayarlah.’
“Demikian pula, para bhikkhu, seseorang di sini
telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju
neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma yang sepele yang
persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit
[sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak
terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan; ia
terbatas dan berkarakter rendah, dan ia berdiam dalam penderitaan. Ketika orang
demikian [253] melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya
menuju neraka.
“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang
sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa
sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang
terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ia
tidak terbatas dan berkarakter mulia, dan ia berdiam tanpa batas. Ketika orang
demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu
dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi
banyak [sisa].
“Jika, para bhikkhu, seseorang mengatakan sebagai
berikut: ‘Seseorang mengalami kamma dengan cara yang persis sama dengan cara ia
melakukannya,’ dalam kasus demikian maka tidak ada menjalani kehidupan spiritual
dan tidak ada kesempatan yang terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan.
Tetapi jika seseorang mengatakan sebagai berikut: ‘Ketika seseorang melakukan
kamma yang harus dialami dengan cara tertentu, maka ia akan mengalami akibatnya
persis dalam cara itu,’ dalam kasus itu maka menjalani kehidupan spiritual
adalah mungkin dan suatu kesempatan terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri
penderitaan.”
Bila kita hanya sekadar pasrah berspekulasi pada karma masa lampau yang
akan berbuah pada kehidupan masa kini kita, tanpa membangun “benteng
perlindungan diri” lewat praktik nyata latihan disiplin diri, disiplin pikiran,
dan disiplin moralitas yang ketat, maka itu sama artinya Anda akan menjadi
budak serta korban alias objek dari karma masa lampau Anda sendiri, menerima
kenyataan pahit tanpa daya.
Apa yang telah kita tanam di masa lampau, tidak bisa diubah ataupun
dihapuskan, itulah fakta yang harus kita hadapi, serta harus kita sikapi secara
arif. Satu-satunya “benteng perlindungan diri”, ialah dengan menjalankan
praktik latihan disiplin diri, disiplin pikiran, dan disiplin moralitas yang
ketat.
SUMBER : Khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID I”, Judul
Asli : “The Numerical Discourses of the
Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press.